BNPB Minta Pemerintah Daerah Moratorium Izin Bangunan di Wilayah Rawan

06 Maret 2018 11:35 oleh tata ruang

BNPB Minta Pemerintah Daerah Moratorium Izin Bangunan di Wilayah Rawan


Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) meminta pemerintah daerah lakukan penghentian sementara (moratorium) izin bangunan pada wilayah-wilayah rawan bencana terutama longsor. Kondisi ini, menyusul begitu banyak korban jiwa jatuh, seperti terjadi di Brebes, Jawa Tengah, belasan orang meninggal dunia tertimbun longsor.

Sutopo Purwo Nugroho, Kepala Data dan Informasi BNPB mengatakan, kalau dibiarkan terus menerus, longsor akan menjadi bom waktu yang selalu terjadi kala musim hujan. ”Pemda harus benar-benar kontrol terkait perizinan dan IMB (izin mendirikan bangunan-red),” katanya.

Penataan dan pemanfaatan ruang, katanya, jadi kunci penanggulangan risiko bencana longsor. Konservasi berbasis biogeo-engineering pada lembah-lembah perbukitan perlu ditanami pohon kayu yang memiliki perakaran dalam yang berfungsi sebagai penahan longsor. Wilayah penyangga antara kawasan perlindungan (kelerengan tinggi) dengan budidaya di bagian bawah dibuat pohon kuat, tanaman rapat dan membentuk sabuk hijau yang tebal dan berlapis. Pengurangan risiko bencana pun, katanya, harus jadi pengarusutamaan dalam pembangunan nasional. “Pencegahan bencana dapat mengurangi kerugian.” Berdasarkan penelitian, US$1 investasi untuk pengurangan risiko bencana mampu mengurangi kerugian ekonomi bencana US$7-40.

Bencana di berbagai daerah

Badan Meteorologi, Klimatologi dn Geofisika (BMKG) menyatakan, sampai 26 Februari 2016, sejumlah wilayah dilanda cuaca ekstrem. Ia berdampak pada meningkatnya bencana hidrometeorologi di beberapa wilayah. Longsor di Brebes hingga kini masih penanganan, banjir di Bandung, Cirebon, Jombang dan Bojonegoro serta angin kencang di Sidoarjo, beberapa hari terakhir ini karena atmosfir sangat labil di Indonesia.

”Adanya pola angin daratan cukup kuat dan didukung pola daerah pertemuan angin (konvergensi-red) hingga dipicu skala atmosfer skala lokal maupun skala yang lebih luas di sekitar lokasi bencana,” kata Hary Tirto Djatmiko, Kepala Bagian Hubungan Masyarakat BMKG, pekan lalu.

Selain itu, katanya, juga kondisi uap air dan kelembaban udara cukup tinggi. Dalam beberapa hari ke depan, suplai uap air sebagai pendukung pertumbuhan awan hujan relatif tinggi, seperti di Sumatera, Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa tenggara Timur. Juga, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara dan Papua.

Menurut dia, besarnya pengaruh kondisi lokal dan pemanasan tinggi hingga akhir Februari akan terjadi peningkatan intensitas hujan lebat yang mungkin disertai kilat atau petir dan angin kencang. Dia mengimbau, masyarakat waspada pada daerah rawan dan potensi genangan, banjir, maupun longsor bagi yang tinggal di potensi hujan lebat. Hingga kini, pencarian dan penyelamatan dan evakuasi korban longsor di Desa Pasir Panjang, Salem, Brebes, masih sulit karena medan berat.  ”Tercatat ada 11 orang meninggal dunia, tujuh hilang dan lima orang masih dirawat di rumah sakit,” ujar Sutopo. Dia mengatakan, tanah longsor di Brebes, murni karena faktor alam. Sebenarnya, sudah ada tanda-tanda longsor sejak dua pekan lalu, sebelum hujan deras. Tanda-tanda itu, katanya, ada rembesan mata air yang mendadak mampet dari lereng perbukitan di Gununglio, mahkota dari longsor.

Berdasarkan peta rawan longsor, wilayah ini termasuk zona merah. Ia merupakan hutan produksi milik Perhutani BKPH Salem petak 26 RPH Babakan, terdiri hutan pinus, dimana tak ada pemukiman ataupun alih fungsi lahan. Pada malam hari, Rabu (21/2/18), masyarakat sudah sebagian mengungsi karena terjadi banjir bandang. Pagi hari, udara cerah, petani kembali berladang untuk memanen jahe.

Kamis (22/2/18), pukul 08.45, terjadi longsor menuruni gaya gravitasi sampai ke bawah. BNPB mengontruksi, luas longsor mencapai 16,8 hektar, dengan panjang longsoran dari mahkota longsor sampai titik terakhir sekitar satu kilometer, lebar 120 meter dan lebar bagian bawah 240 meter dengan ketebalan lima sampai 20 meter perkiraan 1,5 juta meter kubik. ”Ini hutan bagus saja bisa longsor, apalagi kalau hutan resapan air berubah menjadi pemukiman, potensi akan makin tinggi,” katanya. Mayoritas korban adalah petani yang sedang di sawah dan pengemudi yang sedang melintas. utopo mengatakan, sejak awal Februari, peta prediksi potensi longsor sudah dibagikan kepada berbagai pihak untuk antisipasi. ”Tingginya ketidakpastian longsor, tak dapat diprediksi secara pasti.” Terlebih, katanya, zona bahaya merah sangatlah luas, tak jarang banyak masyarakat tinggal di zona bahaya sedang hingga tiinggi. Ada 40,9 juta jiwa atau 17,2% dari penduduk nasional terpapar longsor dari sedang hingga tinggi pada 274 kabupaten/kota. Di sepanjang Bukit Barisan, Sumatera, Jawa bagian tengah dan selatan, Bali, Nusa Tenggara, Sulawesi, Maluku, dan Papua.

Berdasarkan data BNPB, hingga 22 Februari 2018, ada 438 kejadian bencana, 60 orang meninggal, 93 terluka, 297.756 mengungsi dan terdampak. ”Tanah longsor merupakan bencana mematikan yang menyebabkan korban meninggal dan hilang mencapai 46 orang atau 76,67%.”

Adapun empat kecamatan terancam longsor di Wonogiri, Jawa Tengah, karena ada amblesan dan retakan tanah di Kecamatan Purwantoro, Kismantoro, Karang Tengah dan Manyaran, mengancam 98 keluarga atau 358 jiwa. Kini, ada 407 jiwa di tenda pengungsian. Pada Jumat (23/2/18), banjir besar melanda Cirebon, menyebabkan jalur kereta api lumpuh total. Terjadi penumpukan penumpang dan keterlambatan jadwal kereta. Tepatnya, jalur kereta DAOP III Cirebon, di jalur tengah Stasiun Ciledug-Ketanggungan, mengarah ke Purwokerto dan Stasiun Tanjung-Losari arah Tegal. Banjir karena hujan intensitas tinggi disertai Sungai Cibeureus dan Cisanggarung, meluap. Dikutip dari website mongabay.co.id tanggal 6 Maret 2018.

Total Pengaduan: 363
Pengaduan Sudah Dijawab: 194
Pengaduan Belum Dijawab: 169
Kunjungan Hari Ini: 1.021
Kunjungan Kemarin: 1.490
Total Kunjungan: 10.201